Sabtu

Mengenang Sahabat

Dari kamar sebelah, aku mendengar desahan itu dengan serius sekali. Seperti biasanya desahan itu pernah kudengar tak seserius ini.
Aku mencoba membuktikan, bahwa desahan itu sebuah kekagumanku padanya. Dengan perlahan, kakiku melangkah menghampiri TKD. Dan aku berusaha untuk tidak mengganggunya sampai desahan itu berakhir lega baginya.
Dari lubang kecil itu aku menilik seorang teman tengah terbaring, menahan pahitnya dunia ini. Dan semakin kulihat satu keanehan yang terjadi pada dirinya. Dadanya membusung sesekali ke atas dengan susah bernafas.
Dengan cepat kulakukan, aku menerobos pintu kamarnya dan aku bertanya :
“Ada apa lae, kenapa lae bisa seperti ini?” tanyaku heran dan kebingungan entah apa yang harus kulakukan. Teringat lagi hari-hari sebelumnya dia tak pernah bercerita tentang keluarganya yang tinggal di Kota itu. Sehingga kebingunganku bertambah berat dan tak dapat berfikir sedikitpun untuk membawanya ke klinik 24 jam yang berada tak pala jauh dari tempat kontrakan kami. Namun aku mencoba berfikir sejenak dan sabar terduduk disampingnya.
Dengan keheningan malam bercampur dengan desahan-desahan teman yang semakin parah itu. Aku teringat dengan tetangga kontrakan kami yang bekerja di sebuah rumah sakit. “Walau dia bukan Dokter spesialisnya paling tidak dia bisa membantu” pikirku dalam hati.
Larut malam itu, aku bergegas menuju rumah dokter tersebut dengan rasa ketakutan. Aku takut bukan karena (Jika dia menghembuskan nafas terakhir di tempat kontrakan itu, akan selalu menghantuiku) namun yang kutakutkan, (jika dia berlalu meninggalkan dunia ini, alasan apa yang akan kuberikan kepada kedua orang tuanya) aku takut kalau penyakitnya itu adalah penyakit yang tiba-tiba. Oleh karena sebab itu, bisa saja nanti orang tuanya dengan cepat dihampiri prasangka buruk terhadap aku. Dan aku di tuduh berbuat yang bukan-bukan.
“Dokter, dokter........!” panggilku dari pintu depan, sambil nafas tergesah-gesah
“Siapa?” tanya istri dokter dengan santai
“Maaf bu aku mengganggu, minta tolong dokter ke kontrakan kami” pintaku dengan suara yang mengherankan para tetangganya. Satu persatu tetangga dokter itu keluar dan menanyakan apa yang terjadi.
Dengan beramai-ramai kami ke kontarakanku melihat kejadian itu. Mereka pun menanggapi semua yang mengherankan tersebut.
Temanku yang selama 1 tahun lebih bersama denganku ini, terbaring lelah di tempat tidurnya. Dari hati yang paling dalam, menangisi keadaan dia saat itu. Semakin kupungkiri masa-masa lalu kami, terkadang aku yang selalu menjengkelkan menyuruh-nyuruh dia.
Pernah di suatu hari, kami gak makan lagi, sebab, uang saku selama 1 bulan habis. Entah kenapa dengan tiba-tiba saja beberapa tambahan untuk biaya sekolah waktu itu. Dan aku memaksakanya untuk mencari makanan ke temanya. Dengan lelah dia, mencari makanan untuk kebutuhan kami waktu itu, sehingga dia menemukanya dengan senang ia menawariku makan.
“makan lae, santap habis, hahahahaha” candanya padaku
Pernah dia bilang, “kalau aku mati takut gak lae?” katanya, ia suka canda dan aku pun begitu. Namun jawabanku sangat sadis “Mati aja kau biar ku tortori, pastinya gw makan-makan dong kalo kamu mati!” jawaban yang sangat sadis itu terlontar dari mulutku. Namun kami hanya tertawa bahak saja mengenang kalimat itu.
Kebiasaan kami berdua di kontrakan itu, bernyanyi, bercerita, belajar bersama dan masak makanan bergiliran. Terkadang aku malas masak sehingga yang melaksanakan bagian masak dia saja.
Ketertarikan para tetangga sama kami di areal kontrakan itu sungguhlah banyak. Apalagi kalau aku meniup suling dan dia memainkan gitarnya yang lumayan mewah itu. Sehingga para tetangga pun sering bilang, “bagus banget”
Pernah suatu waktu, kami bernyanyi duet aku suara dua dan dia suara satunya. Kami menyanyikan lagunya Tipex “Kamu gak sendirian” beberapa cewe-cewe memandangi kami dari jauh lapangan bola yang ada persis di depan Kontarakan kami. Macam-macam lirikan wanita telah menghampirinya, mengaguminya dan juga memujinya. Apalagi tutur bahasanya sangat sopan sekali (sungguh sopan) bukan yang dibuat-buat. Tidak seperti saya, kalau menghampiri seseorang terlihat sopan, namun setelah sampai di rumah, aku dan dia tertawa bahak ngomongin yang baru saja terjadi.
Kami kompak, kemanapun kami bersama-sama. Kadang terlahir sebuah rasa malu di hati. Namun orang-orang telah menyadari semua itu, bahwa kami kakak adek. Padahal, aku sendiri tak mengenal orang tuanya sama sekali. Cuma dia telah mengenal orang tuaku, karena aku pernah bawa dia pulang kampung. Orang tuaku pun salut dan memuji sifatnya, sehingga aku dipercaya bersamanya tak akan bandal. Namun itulah jiwa seseorang tak dapat dipungkiri, ada yang baik ada pula yang jahat.
“Lae...!” sahutku mendekati dia, sedang dokter memanggil temanya, yaitu dokter spesialis untuk penyakit yang sedang di alamai temanku saat itu.
Dikamar yang sempit itu, air mataku pun menetes saat mengenang semua perjalanan kami selama 1 tahun lebih. Pandanganku lurus kedepan sedih seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
“Sudahlah dek, temanmu pasti sembuh kok” bujuk seseorang dari sampingku.
“Kata dokter penyakit itu Cuma sebentar saja, dan secepatnya dokter akan menghilangkan penyakit itu, karena itu penyakit yang tiba-tiba katanya” sapa polos seorang ibu dari belakangku untuk menyakinkanku agar tidak sedih lagi. Namun semua itu tak pernah kuyakinkan malah membuat aku semakin merasa kehilangan.
Setelah air mata menampakkan kesedihan di pipiku. Mulutku pun ikut serta membuktikan bahwa aku sedang sedih.

0 Comments: